Dampak Longsor Bukit Tasin Masih Dirasakan Warga

Warga bersama petugas bergotong royong membuka akses jalan baru di Desa Beruk, Jatiyoso, Karanganyar. Akses jalan ke Dusun Pondok dan Dusun Pengkok tersebut tertimbun material longsor sejak beberapa hari lalu. (Arief Setiadi/KORAN SINDO)
Warga bersama petugas bergotong royong membuka akses jalan baru di Desa Beruk, Jatiyoso, Karanganyar. Akses jalan ke Dusun Pondok dan Dusun Pengkok tersebut tertimbun material longsor sejak beberapa hari lalu. (Arief Setiadi/KORAN SINDO)

KARANGANYAR – Dampak atas longsornya Bukit Tasin yang berada di Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, beberapa hari lalu masih dirasakan warga hingga saat ini.
Warga di dusun tersebut belum bisa beraktivitas seperti biasa lantaran longsor bukit itu menutup akses satu-satunya ke Dusun Pondok dan Pengkok, Desa Beruk serta akses ke Dusun Jengglong, Desa Wonorejo.
Wagino, warga Desa Beruk, mengatakan akibat longsor tersebut warga selama ini kesulitan untuk ke luar dusun. Menurutnya, akses jalan satu-satunya dan juga jembatan telah putus akibat tertimbun material longsor.Padahal, warga sangat membutuhkan jalan tersebut untuk beraktivitas sehari-hari seperti menjual hasil kebun dan juga untuk berangkat ke sekolah.
Untuk sementara waktu, warga hanya bisa memanfaatkan jalan baru yang sedang diupayakan oleh pemerintah Kabupaten Karanganyar. Namun, hal tersebut tidak terlalu efektif karena hanya sepeda motor tertentu yang bisa melintas.
Sedangkan untuk kendaraan roda empat praktis tidak bisa masuk sama sekali. Padahal kendaran roda dua dan roda empat  sangat diperlukan untuk mengangkut hasil kebun yang akan dijual ke pasar di wilayah Wonogiri.
Semenjak longor berlangsung, saat ini aktivitas jual beli hasil kebun dilakukan di Pasar Beruk. Dari sana tengkulak yang membawa hasil bumi itu ke Wonogiri.
“Biasanya kami yang melakukan sendiri dari tempat tinggal kami ke wonogiri, namun karena akses kendaraan terbatas maka sistemnya agak diubah,” ucapnya, Rabu (24/2/2016).
Ia mengatakan, jika dilihat dari kondisi yang ada di lapangan, warga akan merasakan dampak longsor hingga setahun ke depan. Sebab, pembangunan jalan baru yang bagus tidak mungkin bisa dibangun dalam waktu singkat. Butuh waktu yang lama untuk menentukan jalan baru yang nantinya aman digunakan untuk warga masyarakat.
“Sampai saat ini warga dibantu relawan dan petugas terus gotong royong membangun akses jalan baru untuk masyarakat.”
Kepala Dusun Nggantirejo Suparjo, mengatakan sampai saat ini tanah di lokasi longsor masih cukup labil. Saat hujan deras mengguyur tanah akan mudah sekali untuk goyang. Retakan tanah yang tersisa masih cukup panjang dan sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan warga.
“Kita terus pantau pergerakan tanah yang ada, sembari membuat akses jalan baru untuk digunakan masyarakat.
 
“kami adalah perusahaan yang bergerak di bidang rekayasa instrumentasi, robotika, embedded systems, mekatronika dan IT software. kami spesialis dalam memproduksi berbagai alat monitoring jarak jauh support tambang, perkebunan, migas dan manufaktur. salah satu produk unggulan kami adalah argatech extensometer yakni alat pendeteksi longsor sekaligus alat monitoring trend pergerakan tanah (landslides early warning systems and slope stability monitoring)”

Leave a Comment