News

Kejadian Aneh dan di Luar Nalar Sebelum Terjadi Longsor Maut di Sungai Ngobo Kediri

21 February 2018
in News
Kondisi kawasan tanah longsor di penambangan pasir di aliran Sungai perbatasan antara Kecamatan Plosoklaten-Desa Satak Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jumat (16/2/2018).

Kondisi kawasan tanah longsor di penambangan pasir di aliran Sungai perbatasan antara Kecamatan Plosoklaten-Desa Satak Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jumat (16/2/2018).

TRIBUNNEWS.COM, KEDIRI - Warga sekitar Sungai Ngobo di Kediri menyakini adanya kejadian di luar nalar saat kawasan itu tanah longsor dan menewaskan sejumlah penambang pasir beberapa waktu lalu.Menurut Muhamad Mustofa, Kepala Desa Wonorejo Trisulo, persis di kaki Gunung Kelud tersebut adalah lokasi titik Petak 148 yang merupakan tempat kejadian bencana alam tanah longsor hingga menewaskan empat orang penambang pasir.

Dia menceritakan sejumlah keanehan di sekitar lokasi pertambangan pasir rakyat. Bahkan, sering terjadi kejadian aneh di lokasi itu, misalnya mesin truk menyala sendiri tanpa ada orang di dalamnya dan masih banyak lagi.”Warga telah terbiasa dengan sejumlah kejadian di luar nalar itu. Memang masih ada kejadian aneh-aneh” tuturnya kepada Surya, Senin (19/2/2018).

“Bukan mitos tapi ini nyata adanya dan memang itu terjadi,” imbuhnya.Dari pengamatan di lapangan, memang lokasi musibah tanah longsor di area pertambangan pasir rakyat, berada jauh di pedalaman kawasan perbukitan.Akses menuju ke tempat itu melewati perkebunan Satak. Jalannya terjal berupa tanah bercampur bebatuan. Akses jalan sepi melewati jalur sempit yang dikanan kirinya diapit tebing.Dari pintu gerbang Perkebunan Satak ke lokasi sejauh 15 kilometer melintasi perkebunan kopi yang masuk ke dalam area hutan. Sedangkan, titik terdekat via Balai Desa Wonorejo Trisulo dengan mengendarai mobil sekitar satu jam perjalanan. Untuk menuju ke lokasi longsor terlebih dahulu menyusuri aliran sungai dengan jalur track pasir bercampur air.Mustofa menjelaskan hampir tidak ada warga yang berangkat mencari pasir pada dini hari. Walaupun ada itupun sangat jarang dan dipastikan jumlahnya dapat dihitung dengan jari.Mereka para penambang, kata dia, yang berangkat dini hari tergolong bernyali besar. Tetapi, lebih banyak yang berangkat pagi.”Mereka nyalinya besar, nggak takut sama yang gituan. Dicoba sendiri saja sekalian membuktikan, mumpung di atas sepi nggak ada penambang. Coba saja mulai makam ke atas sekarang naik malah joos,” selorohnya.

(Muhamad Romadoni)

Continue Reading

Satu Rumah Warga di Kuningan Hancur Akibat Tertimpa Longsor

15 February 2018
in News
Hujan deras yang terus menerus di Desa Cilimus, Kecamatan Cilimus, Kuningan, Jawa Barat tebing penahan tembok setinggi 10 meter longsor menimpa sebuah rumah, Rabu (14/2/2018). Foto iNews TV/Toiskandar

Hujan deras yang terus menerus di Desa Cilimus, Kecamatan Cilimus, Kuningan, Jawa Barat tebing penahan tembok setinggi 10 meter longsor menimpa sebuah rumah, Rabu (14/2/2018). Foto iNews TV/Toiskandar

KUNINGAN – Hujan deras yang terus menerus di Desa Cilimus, Kecamatan Cilimus, Kuningan, Jawa Barat selama satu hari mengakibatkan tebing penahan tembok (TPT) setinggi 10 meter longsor, Rabu pagi (14/2/2018). Akibat kejadian ini satu rumah warga ambruk tertimpa longsoran tanah. Beruntung akibat longsor tak menimbulkan korban jiwa karena pemilik langsung berhamburan keluar rumah.
Akibat longsor yang menimpa milik salah seorah warga seluruh perabotan tidak bisa terselamatkan karena tertimpa longsoran tanah seperti, kulkas dan perabotan lainnya. Pemilik hanya bisa pasrah dengan kejadian longsor yang menimpa rumahnya.

Menurut Arif pemilik rumah, kejadian tebing longsor ini berawal akibat hujan terus menerus di menguyur Kuningan dari Selasa siang hingga malam dini hari pada pukul 22.00 WIB.
“Tiba tiba saja terdengar suara gemuruh dan langsung berhamburan keluar rumah,” kata Arif.
Arif berharap kepada pemerintah untuk memberikan bantuan akibat rumahnya tertimpa longsor. Sementara akibat kejadian tebing longsor membuat Arif mengalami kerugian mencapai puluhan juta rupiah.

(sms)
Continue Reading

Topan Basyang Picu Tanah Longsor di Banyak Wilayah Filipina

14 February 2018
in News
Ilustrasi topan (Reuters)

Ilustrasi topan (Reuters)

Liputan6.com, Dumaguet, Filipina - Sebuah topan dahsyat dilaporkan menghantam Kota Dumaguet di Pulau Negros, Filipina, pada Selasa 13 Februari 2018 malam, dan terus melaju melintasi kawasan Sulu di utara Pulau Sulawesi.Dilansir dari laman Express.co.uk pada Rabu (14/2/2018), topan dahsyat itu diberi nama Basyang, dan diprediksi akan memicu beberapa bencana longsor di banyak wilayah di Pulau Palawan Filipina hingga esok hari.Prediksi tersebut didasarkan pada curah hujan yang meningkat pasca-terjangan topan Basyang, yang melanda sebagian wilayah selatan Filipina pada kemarin petang. Petugas penyelamat telah dikerahkan untuk mengevakuasi ratusan orang dari risiko bencana pasca-hantaman topan.

Topan Basyang merupakan serangkaian angin ribut yang tercipta dari sebuah badai tropis di selatan samudera Pasifik. Serangkaian badai tropis itu pertama kali menghantam kota Cortes, provinsi Pulau Surigao del Sur, pada Selasa siang.Terjangan topan tersebut memicu tanah longsor di kawasan pegunungan di sekitar kota tambang Carrascal, juga berada di Provinsi Suirgao del Sur.

Otoritas setempat menyebut setidaknya empat orang meninggal dalam musibah tanah longsor, termasuk seorang ibu dan orang anaknya.Sementara itu, petugas keamanan Filipina terus berupaya membuka akses menuju lokasi bencana yang tertutup oleh longsoran tanah pohon-pohon tumbang.Masyarakat di lima pulau utama Filipina mendapat peringatan siaga satu, di mana hal itu merujuk pada ancaman bencana banjir dan tanah longsor terkait terjangan topan Bansyang.Meski siaga satu merupakan tingkat peringatan terendah, namun ancaman angin berkekuatan besar diperkirakan masih akan terbentuk pada kecepatan 60 kilometer per jam. Sementara itu, serangan badai Topan Basyang turut mengancam para wisatawan asing yang tengah berlibur di beberapa pulau utama di selatan Filipina, termasuk Pulau Palawan.Salah satu destinasi wisata paling populer di dunia, El Nido, berlokasi di kawasan utara pulau tersebut.

El Nido dikenal luas memiliki kekayaan laut yang mengagumkan serta sederet pantai berpasir putih yang indah.Hantaman Topan Basyang disebut berdampak pada tertahannya para turis karena ditutupnya Puerto Princesa, satu-satunya pelabuhan utama di Pulau Palawan.Penundaan pelayaran kapal ferry menyebabkan lebih dari 4.500 penumpang tertahan di banyak pelabuhan di seantero Filipina, demikian menurut laporan Pasukan Keamanan Pesisir setempat.Sejauh ini para relawan dari Palang Merah Filipina telah menyebar ke daerah-daerah yang terkena dampak badai Topan Basyang. Mereka memberi bantuan pangan dan obat-obatan, serta dukungan moril kepada para keluarga yang kehilangan rumah.

Continue Reading

Sebelum Tanah Longsor Terjadi di Samigaluh, Warga Sudah Memiliki Firasat

13 February 2018
in News
Longsor menerjang rumah warga di Menggermalang, Gwrbosari, Samigaluh, Kulonprogo, Senin (12/2/2018)

Longsor menerjang rumah warga di Menggermalang, Gwrbosari, Samigaluh, Kulonprogo, Senin (12/2/2018)

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO – Rumah Sumaryo (43) di Pedukuhan Menggermalang, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh diterjang tanah longsor, Senin (12/2/2018).Beruntung, meski material longsoran merobohkan ruang samping rumahnya, ia dan keluarganya berhasil selamat dari bencana tersebut.Hidup di kawasan bencana sudah menjadi pilihan bagi sebagian warga Kulonprogo. Ada semacam ikatan batin juga sosial yang dialami warga sehingga memilih untuk bertahan dalam lingkungan tempat tinggalnya itu.Meski demikian, mereka menyadari bahwa potensi bencana yang bisa membahayakan jiwa pun mengintai mereka sewaktu-waktu.

Mawas diri, menyatu dengan alam, bersikap waspada, dan pandai membaca segala pertanda yang muncul adalah langkah pertama yang selalu mereka biasakan.Warga menyadari, dengan cara itulah mereka bisa menyelamatkan diri sendiri dari ancaman bencana Itu pula yang dilakukan Sumaryo. Ia menolak tawaran ayahnya untuk pindah rumah ke sisi lain kampungnya karena sudah merasa nyaman tinggal di rumah tersebut.Namun, rasa nyaman itu tak membuatnya lengah. Ia sudah menyadari adanya gelagat tak bagus dari tebing bangket jalan setinggi 15 meter dan panjang 30 meter di samping rumahnya itu.Alam memberikan pertandanya sendiri kepada dirinya, beberapa jam sebelum longsor terjadi.”Minggu pagi, saya berjalan di atas tebing dan ternyata ada retakan. Saya injak tanahnya ternyata mblesek (ambles) sampai 30 centimeter lalu saya cari tali rafia dan bambu untuk bikin penanda. Dari situ perasaan saya sudah ngga enak dan bakalan ada sesuatu terjadi. Ternyata benar,” kata Sumaryo. Peristiwa itu terjadi setelah hujan deras cukup lama mendera kawasan tersebut sejak Minggu (11/2/2018) sore.Kejadian diawali ambrolnya bangket tebing jalan sisi barat pada Minggu malam sekitar pukul 19.45.Setelah itu, longsor lebih besar terjadi pada Senin dinihari pukul 01.30 dengan bidang lebih lebar. Material longsoran lalu menghantam bagian samping dan belakang rumah Sumaryo hingga ambruk.

Firasat kuat yang dirasakannya membuat Sumaryo merasa perlu mengambil langkah antisipasi.Sejak sebelum longsor pertama terjadi dan hujan deras tak kunjung reda, ia sudah mewanti-wanti istri dan kedua anaknya untuk tidak banyak beraktivitas di ruangan sisi utara.Pun ketika longsor itu akhirnya terjadi, sang istri dimintanya bergegas mengemas baju dan barang penting serta memindahkannya ke sisi selatan. Namun, belum juga selesai membereskan barang, longsor susulan yang lebih besar tiba-tiba terjadi.Bagian dapur dan kamar samping miliknya jebol diterjang material longsor.Berkat firasat yang dirasakannya, keluarganya pun aman dari terjangan tanah tersebut karena sudah berpindah ke sisi selatan. Sumaryo lantas memukul kentongan yang tergantung di teras rumah.Namun, tidak ada tetangga yang datang menolongnya.Talu kentongan seolah tercekat oleh deru suara hujan yang masih lebat mengguyur kala itu.”Akhirnya sekuat tenaga saya teriak panggil saudara yang ada di ujung jalan depan rumah. Keluarga lalu saya ungsikan ke sana,” imbuh Sumaryo

Senin pagi, warga bergotongroyong mengevakuasi barang perabotan dari rumah Sumaryo ke lokasi pengungsian sementara di rumah saudaranya.Sumaryo sendiri belum tahu hingga kapan ia dan keluarganya akan mengungsi.Dirinya berharap ada bantuan dari pemerintah untuk perbaikan rumahnya itu.Selain di Menggermalang, tanah longsor juga muncul di beberapa titik lain di Samigaluh.Material longsor mengenari rumah warga di Keceme dan Plono, desa Gerbosari namun tidak menimbulkan korban jiwa. Sedangkan akses jalan yang tertutup longsor antara lain di Puyang Desa Purwoharjo dan Nyemani Desa Sidoharjo.

Camat Samigaluh, Setiawan mengatakan pihaknya sidah berkoordinasi dengan Badan Penanggukangan Vencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, unsur SAR, dan relawan.Prioitas penanganan saat ini adalah menyelamatkan jiwa warga dengan diungsikan agar tidak terancam bahaya longsor susulan yang masih mengintai.”Relokasi atau tidak, nanti kita lihat dulu keadaannya. Kami juga mengupayakan akses jalan yang tertutup bisa dibuka kembali,” kata Setiawan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mencatat ada 14 titik kejadian bencana tanah longsor di beberapa wilayah akibat hujan deras pada Minggu.Lokasinya terutama di kawasan perbukitan Menoreh yang memang terhitung rawan terjadi tanah longsor.Selain di Samigaluh, longsor juga terjadi di Kalibawang, tepatnya di Pedukuhan Pranggen, Desa Banjaroya yang mengancam rumah warga serta di Banjarasri yang menutup saluran irigasi Kalibawang.Kasi Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kulonprogo, Suhardiyana mengatakan Tim Reaksi Cepat (TRC) diterjunkan ke lapangan untuk pengondisian keadaan dan penanganan awal serta assesment.

Pihaknya juga berkoordinasi dengan Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan permukiman (DPUPKP) Kulonprogo untuk menutup saluran irigasi Kalibawang.Hal ini dilakukan agar air tidak meluber ke rumah penduduk dan areal persawahan di sekitarnya setelah badan selokan tertutup material longsor.”Penanganan dilakukan ahri ini juga supaya tidak mengganggu kebutuhan air dari lahan pertanian seluas 5.000 hektare di area bawahnya,” kata dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

Continue Reading

232 Jiwa Mengungsi Akibat Longsor Sirongge Banjarnegara

12 February 2018
in News
Warga menonton gerakan tanah yang masih berlangsung. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)

Warga menonton gerakan tanah yang masih berlangsung. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Hujan lebat beberapa hari terakhir memicu bencana longsor atau tanah bergerak di Desa Sirongge Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu petang hingga malam (10/2/2018).Lantaran membahayakan, ratusan warga Dusun Sawangan mengungsi. Pasalnya, gerakan tanah terus berlangsung dan dikhawatirkan menimpa rumah warga.

Sementara ini, tercatat jumlah pengungsi mencapai 232 jiwa, terdiri dari 81 laki-laki, 151 perempuan, 24 anak-anak dan 13 lansia. Warga mengungsi ke sejumlah lokasi yang dinilai aman dari longsor.Warga paling banyak mengungsi ke gedung SD Negeri 2 Sirongge. Selain itu, mereka juga mengungsi ke Puskesmas Pandanarum.

Di luar fasilitas umum, warga juga mengungsi ke rumah saudara atau tetangga di dusun lain yang relatif aman dari ancaman longsor, yakni Dusun Gumelar, Getas dan Bantengan.

Longsor juga menutup jalur Sirongge. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)

Kepala Pelaksana Harian (Lakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Arif Rachman menerangkan, longsor di Desa Sirongge bukan kejadian baru. Pada 2017 lalu, tiga lokal kelas SD Negeri Sirongge ambles. Selain itu, puluhan rumah warga juga terancam.Hanya saja, gerakan tanah terasa massif beberapa hari terakhir. Puncaknya adalah Sabtu dan Minggu ini, saat gerakan tanah berlangsung lebih cepat dari biasanya.

“Pernah dilakukan kajian geologi. Dulu kan pernah ada jalan, gedung sekolah dan lain sebagainya. Kajian geologinya, daerah situ memang rawan,” dia menjelaskan kepada Liputan6.com.Pantauan pada hari Minggu, gerakan tanah terus terjadi. Longsor atau gerakan tanah di Sirongge, Banjarnegara bisa diketahui secara visual maupun dari suara. Itu juga ditunjukkan dari pohon-pohon yg makin miring dan terus bergerak dan mengeluarkan suara derakan keras.”Ini tidak blek hari ini, tapi semenjak kemarin sudah ada gerakan tanah,” Arif menambahkan

Pengungsi di SD Negeri 2 Sirongge akibat gerakan tanah Dusun Sawangan. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)

Dia pun mengakui, pusat pengungsian yang kini didirikan belum layak. Pasalnya, ruangannya kurang luas.Contohnya, di SD Negeri 2 Sirongge. Di gedung sekolah ini, ada 56 kepala keluarga yang mengungsi. Akibatnya, pengungsi berjubel di ruangan yang sempit. Mereka merupakan warga RT 01, RT 02 dan RT 03 RW 03 Dusun Sawangan, Sirongge.

Padahal, dari seluruh jumlah pengungsi, ada kelompok rentan. Di antaranya 11 balita dan 10 lansia. Mereka tidur berjubel di ruang kelas.”Ruang kelas untuk pengungsian yang kurang luas dikhawatirkan juga mengganggu kesehatan pengungsi,” tuturnya.BPBD juga terus memantau gerakan tanah. Jika kondisi tak aman, maka pengungsian juga akan dipindah ke lokasi aman.

 

Area gerakan tanah Desa Sirongge, Pandarum mencapai luasan hektaran. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)

Di titik lainnya, sebanyak 11 kepala keluarga yang terdiri dari 38 jiwa memilih mengungsi di kandang. Padahal, terdapat empat bayi dalam kelompok pengungsi ini.Sebab itu, BPBD Banjarnegara tengah mencari pengungsian lagi agar warga tak berdesakan. Dengan begitu, pengungsi akan lebih nyaman.

Pasalnya, gerakan tanah masih terus terjadi dan belum dapat diprediksi kapan berhenti. “Pantauan masih terus dilakukan. Kami belum tahu sampai kapan warga akan diungsikan,” ucapnya.Akibat gerakan tanah itu, aliran listrik ke sejumlah pengungsian putus. Padamnya listrik ini menyebabkan petugas terkendala.Arif mengakui, hingga saat ini belum terdata keberadaan ibu hamil dan disabilitas. Sebab itu, Minggu ini, BPBD kembali mendata keseluruhan jumlah pengungsi dan karakterisitiknya.Sejumlah kebutuhan pengungsian yang mendesak, di antaranya adalah pampers bayi, alas tidur, selimut, makanan bayi.

Continue Reading

Kesaksian Sopir Angkot Berujung Misteri di Longsor Puncak

9 February 2018
in News
Kabut tebal dan hujan deras menemani proses evakuasi longsor di Riung Gunung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)

Kabut tebal dan hujan deras menemani proses evakuasi longsor di Riung Gunung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)

Puncak, Bogor, CNN Indonesia — Mesin pengeruk tak berhenti meraung, mengeruk timbunan lumpur di lokasi longsor Riung Gunung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Anjing pelacak turut dikerahkan untuk mencari tiga orang yang awalnya diduga hilang akibat longsor di kawasan itu.
Dugaan korban hilang berdasarkan keterangan saksi yang juga korban selamat dari peristiwa longsor. Agus, sopir angkutan kota, menduga melihat tiga orang di atas sepeda motor yang melaju di belakang angkot yang dikendarainya.

Proses evakuasi selama tiga hari itu dikerjakan oleh Tim SAR yang terdiri dari anggota kepolisian, TNI, Basarnas, hingga pemadam kebakaran. Selama tiga hari itu pula hujan deras dan kabut tebal menemani kerja mereka.
Tak ada tanda atau petunjuk yang ditemukan tim SAR dalam dua hari pertama proses evakuasi. Hujan yang terus menerus mengguyur lokasi membuat evakuasi semakin sulit dilakukan. Terlebih medan yang dihadapi adalah dataran berupa tebing.
“Jika memang ada korban seharusnya ada motor yang dikendarainya, tapi ini tidak ada sama sekali,” ujar Sirait, salah satu anggota tim SAR, dengan bibir dan badan bergetar akibat hujan dan suhu dingin yang menusuk tubuhnya, Selasa (6/2).

Tanda atau petunjuk itu baru didapatkan pada hari ketiga, Rabu (7/2). Tim evakuasi menemukan pecahan sepatbor motor dan dua sandal pria serta satu sepatu perempuan.
Barang-barang itu ditemukan oleh anggota tim SAR Pratu Raden Tri Satria, namun tim SAR belum dapat memastikan apakah benda-benda itu merupakan milik korban atau bukan.
“Sekitar jam 10.00 WIB saya menemukan benda ini, tapi tidak tahu juga benar atau tidak ini milik tiga orang yang diduga hilang itu,” tuturnya.

Perdebatan pun terjadi di tengah evakuasi. Tim SAR dari BPBD mempertanyakan kebenaran informasi tiga orang diduga hilang. Mereka juga berniat kembali memeriksa Agus untuk memastikan dugaan tiga orang hilang itu.Namun, karena tetap ingin melakukan tugas hingga selesai, tim SAR tetap melakukan evakuasi. Alat berat kembali bekerja mengeruk tanah longsoran, pemadam kebakaran menyemprotkain air untuk membantu mengurai lumpur dan tanah
Gundah Gulana Tim SAR Mencari Korban Hilang di Longsor Puncak
Salah satu anggota Damkar, Alan Bastyan, sesekali harus terjatuh untuk mengarahkan selang air agar bisa mengurai tanah dengan baik. Dia kesulitan lantaran harus berdiri di tanah lumpur sedalam 50 cm.”Aduh, susah itu ruang gerak jadi terbatas karena tanah itu kan lumpur dan tinggi juga,” tuturnya.
Kerja keras anggota tim SAR tetap tak mampu menemukan petunjuk tambahan yang menguatkan dugaan tiga orang hilang tertimbun longsoran.Rasa lelah dan resah terpancar dari raut wajah tim SAR yang telah berhari-hari mengevakuasi longsoran di Riung Gunung tersebut.

“Apa yang mau ditemukan jika memang tidak ada? Anjing pelacak kan sudah turun, tidak ada juga,” ujarnya saat berdiskusi dengan anggota SAR lainnya

Sekitar pukul 17.00 WIB, tim SAR akhirnya menyudahi evakuasi untuk seterusnya. Koordinator Tim Evakuasi dan Pencarian Korban Longsor Kolonel Infantri Danrem 061 Surya Kencana M Hasan memastikan tidak terdapat korban jiwa dalam tragedi longsor tersebut. Sepatbor motor dan sepatu yang ditemukan sebelumnya, kini dinyatakan sebagai sampah yang dibuang sembarangan oleh masyarakat. Wajah cerah serentak menghiasi raut muka anggota SAR saat mengetahui dihentikannya evakuasi di Riung Gunung.
Seluruh anggota tim evakuasi korban pun bergegas dan meninggalkan lokasi longsor tersebut.”Akhirnya pulang,” ujar seorang anggota tim SAR yang berada di lokasi.

(wis/gil)
Continue Reading

Longsor di Pekalongan, Satu Warga Hilang Diduga Tertimbun

8 February 2018
in News
Foto: Robby Bernardi/detikcom

Foto: Robby Bernardi/detikcom

pekalongan – Tanah longsor terjadi di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Satu orang warga dinyatakan hilang. Korban diduga tertimbun longsor.Longsor di sebuah tebing yang berada di kawasan hutan petak 56 Perhutani KPH Pekalongan Timur, Dukuh Godang, Desa Tenogo, Kecamatan Paninggaran terjadi Rabu (07/02). Longsor diakibatkan intensitas hujan yang turun cukup tinggi hingga hari ini.
Warga yang hilang bernama Rali (45), seorang pencari rumput, warga Dukuh Godang. Kepala Desa Tenogo, Agus Susilo kepada detikcom mengatakan di wilayahnya intensitas hujan dalama bebebrapa hari terakhir sangat tinggi. Keberadaan korban hilang sendiri diketahui oleh pihak keluarga pada Rabu sekitar pukul 10.00 WIB.
“Kebiasaan korban memang mencari rumput saat pagi. Biasanya dia (korban) pergi dari rumah sekitar pukul lima dan pukul tujuh sudah berarumah,” kata Agus Susilo.

Tim SAR masih melakukan pencarian korban longsor

Menurutnya korban biasa mencari rumput di sekitar lokasi terjadinya longsor. Karena belum pulang keluarga mencarinya dan kemudian melaporkan ke desa.
Sementara itu Edi Harwono, petugas KPH Pekalongan Timur menambahkan korban dipastikan berada di lokasi longsor tersebut. Sebab di dekat lokasi ditemukan barang milik korban.
“Disekitar lokasi ada jejak kaki dan rumput milik korban juga berada di sekitar lokasi,” jelasnya.

Korban sendiri saat pergi dari rumah mengenakan kaos kuning, celana hitam, topi hitam, sepatu blandong putih, serta membawa sabit dan tali bambu.
Menurut Edi Harwono, tebing yang longsor ini seluas 0,5 hektar. Diketahui pada jalan setapak menuju lahan longsor terdapat jejak kaki dan bekas potongan rumput, serta diduga korban tertimbun material.

Hingga saat ini masih dilakukan pencarian terhadap korban, meski hujan masih turun. Pencarian dilakukan oleh warga, anggota TNI dan Polri, BPBD, PMI, KPH Pekalongan Timur, SAR dan relawan.
Petugas melakukan upaya pencarian sejak pukul 13.00. Upaya pencarian ini sempat terhambat dengan adanya longsor susulan. Bahkan, dua warga yang ikut melakukan pencarian, nyaris tertimbun karena longsor susulan tersebut.
Hingga Rabu petang pencarian dihentikan mengingat lokasi terjadinya longsor terjadi hujan dan kabut tebal yang turun. Selain itu, karakter tanah di lokasi setempat labil.
“Upaya pencarian dihentikan karena hujan dan kabut tebal turun. Rencananya akan dilakukan pencarian kembali kamis besok pagi,” pungkas Edi Harwono.

(bgs/bgs)

 

 

Continue Reading

Kata Fisikawan soal Kopassus Cari Korban Longsor Pakai Tenaga Dalam

7 February 2018
in News
Pencarian korban longsor di Kampung Maseng, Cijeruk, Bogor akhirnya membuahkan hasil setelah pencarian dilakukan sejak siang kemarin (Foto: Istimewa)

Pencarian korban longsor di Kampung Maseng, Cijeruk, Bogor akhirnya membuahkan hasil setelah pencarian dilakukan sejak siang kemarin (Foto: Istimewa)

Jakarta – Salah satu anggota Kopassus memanfaatkan ilmu bela diri berupa tenaga dalam pencarian korban tanah longsor di Kampung Maseng, Cijeruk, Bogor. Bagaimana penjelasan ilmiahnya?Fisikawan LIPI Perdamean Sebayang mengatakan pemanfaatan tenaga dalam yang dilakukan Praka Pujiono tersebut ialah penerapan gelombang elektromagnetik. Hal ini dilakukan dengan pemusatan pikiran.

“Jadi sebenarnya, itu kan orang konsentrasi itu dengan memusatkan pikiran, jadi ada frekuensi nanti itu, gelombang elektromagnetik,” kata Perdamean dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (6/2/2018) malam.
“Tapi itu memang ada, tapi yang secara fisika, ya gelombang elektromagnetik,” sambungnya.Dia mengatakan pemusatan konsentrasi dengan teknik tertentu dapat dikonversi hingga menghasilkan gelombang elektromagnetik. Gelombang yang dipancarkan Praka Pujiono kemudian mendeteksi posisi keberadaan korban yang tertimbun tanah longsor.
Perdamean memberi analogi penerapan penggunaan tenaga dalam berupa gelombang elektromagnetik ini seperti alat sonar yang dipakai untuk mendeteksi panas suatu benda.
“Ya, betul (memancarkan gelombang elektromagnetik). Jadi terpantul lagi gelombang elektromagnetik itu ke dia,” ujar dia.”Kan itu ada frekuensinya. Cuma zaman sekarang sudah zaman teknologi, sebenarnya sudah ada detektor. Cuma dia tak pakai alat,” imbuh Perdaeman.Dia mengatakan seseorang dapat melakukan hal yang sama seperti Praka Pujiono lewat latihan. Tapi dia tak menampik, kemampuan memancarkan gelombang elektromagnetik dapat dilakukan oleh seseorang lewat faktor keturunan.

“Tapi tidak semua orang bisa melakukan itu. Itu kan yang namanya gelombang elektromagnetik dengan cara memusatkan pikiran,” ucapnya.
“(Itu) bisa dipelajari dengan latihan. Tapi tak semua orang bisa mendalami seperti itu, konsentrasi seperti itu. Tapi ada juga yang dari turunan,” sambung Perdamean.
Sebelumnya diberitakan, sejumlah personel dari Kopassus diikutsertakan dalam pencarian korban longsor di kawasan Puncak tersebut. Salah satu tim pencari korban dari anggota Kopassus, Lettu Arief Rahman mengatakan diperintahkan Komandan Batalion Mayor Inf Wahyo Yuniartoto untuk memanfaatkan ilmu bela diri tenaga dalam Merpati Putih. “Nah, kita mendapatkan arahan beliau (Komandan Batalion), belajar dari pengalaman beliau, kita eksplor kemampuan personel yang memiliki kemampuan getaran dalam bela diri Merpati Putih,” kata Arief saat dihubungi detikcom, Selasa (6/2).

Salah seorang anggota Kopassus, Praka Pujiono, kemudian mulai mendeteksi posisi korban dengan tenaga dalam yang dimiliki. Setelah menduga satu titik tempat korban tertimbun, dia kemudian mengarahkan ekskavator untuk melakukan penggalian. Selanjutnya pencarian korban dilakukan dengan menggunakan cangkul.
Tim pencari kemudian menemukan tiga korban meninggal tertimpa longsoran pada pukul 09.40 WIB tadi. Tiga korban yang ditemukan adalah Nani (30), dan dua anaknya, Aurel (2) serta Aldi (9).Sedangkan dua korban lainnya masih dicari, yakni Alan Maulana Yusuf (17) dan Adit (11). Sebelumnya, lima orang dilaporkan hilang dalam kejadian itu.

(jbr/tor)

Continue Reading

Evakuasi Lanjut, Ekskavator Selesai Keruk Tanah Longsor di Soetta

6 February 2018
in News
Proses evakuasi korban dalam mobil yang tertimbun longsor di jalan perimeter Bandara Soekarno-Hatta. (Ahmad Bil Wahid/detikcom)

Proses evakuasi korban dalam mobil yang tertimbun longsor di jalan perimeter Bandara Soekarno-Hatta. (Ahmad Bil Wahid/detikcom)

Jakarta –

Tiga ekskavator sudah berhenti mengeruk tanah material longsor di jalan perimeter Bandara Soekarno-Hatta. Upaya evakuasi masih dilakukan karena ada reruntuhan tembok beton di lokasi.Pantauan detikcom pada pukul 00.55 WIB, Selasa (6/2/2018), petugas evakuasi masih berada di area longsor tembok jalan perimeter bandara. Sedangkan tiga ekskavator sudah berhenti menyingkirkan tanah longsoran yang menimbun mobil sekitar pukul 00.40 WIB.

Tampak puluhan petugas berada di lokasi longsor. Longsor menimbun satu mobil yang berisi dua orang.Sebelumnya, Kepala Kantor SAR Jakarta Hendra Sudirman mengatakan salah satu orang masih bisa merespons petugas yang mengajak berkomunikasi. Tim medis sudah memberikan bantuan oksigen kepada korban.Petugas menggunakan mesin hidrolik menahan reruntuhan tembok agar tidak menimpa mobil. Petugas berencana mengangkat beton dengan alat berat.”Sudah kita tahan dengan (mesin) hidrolik,” ujar Hendra.

Continue Reading

Hujan Deras dari Semalam,Jalan Raya Puncak Bogor Tertutup Longsor, ini Foto-Foto 4 Titik Kejadiannya

5 February 2018
in News

longsor-di-puncak_20180205_130819

TRIBUNNEWS.COM – Hujan deras yang mengguyur wilayah Bogor sejak semalam membuat jalur Puncak dikepung longsor.Bencana longsor tersebut terjadi di Jalan Raya Puncak, Kabupaten Bogor, Senin (5/2/2018).Akun resmi Polres Bogor mengunggah tiga foto kondisi terkini di jalur utama menuju Puncak Tanah longsor menutup seluruh badan jalan hingga tak bisa dilintasi kendaraan.

Kini, arus lalu lintas dari dan menuju Puncak dialihkan ke jalur Sukabumi.Terjadi Longsor di Jalur Puncak, Senin (05/2) yang menutup Jalur Utama.Jalur Arah Puncak saat ini ditutup kami alihkan Via Jalur Sukabumi.Hingga kini TribunnewsBogor.com belum mendapat konfirmasi resmi dari BPBD Kabupaten Bogor maupun Polres Bogor.

Tak hanya itu, akun tersebut juga menyebutkan kalau ada empat titik longsor di wilayah Puncak “Senin 5 Februari 2018
-Terjadi Longsor di Jalur Puncak, terdapat 4 Lokasi yang terjadi Longsor yang menutup Jalur Utama
-Jalur Arah Puncak saat ini ditutup, kami alihkan Via Jalur Sukabumi,” tulisnya.

 

Ini foto-fotonya :

Longsor di Jalan Raya Puncak, Kabupaten Bogor, Senin (5/2/2018)
Longsor di Jalan Raya Puncak, Kabupaten Bogor, Senin (5/2/2018) (Instagram)
Longsor di Puncak
Longsor di Puncak (Instagram)
Longsor di Puncak
Longsor di Puncak (Instagram)
Longsor di Puncak
Longsor di Puncak (Instagram)
Longsor di Puncak
Longsor di Puncak (Instagram)
Longsor di Puncak
Longsor di Puncak (Instagram)

 

 

 

 

Continue Reading
Page 1 of 4212345...102030...Last »